4 Jul 2012

Musik Lombok



GENDANG BELEQ

Gendang Beleq adalah adalah salah satu alat musik tradisional suku sasak di lombok. Gendang beleq sendiri artinya Gendang Besar karna ukurannya memeang besar melebihi ukuran normalnya.  Gendang Beleq diciptakan untuk mengiri dan menghibur para prajurit menuju medan perang dan menyabut kedatangan dari medan perang akan tetapi dengan perkembangan zaman gendang beleq digunakan untuk menyambut kedatangan tamu.
Gendang Beleq sendiri pada dasarnya merupakan alat musik akan tetapi lebih dari itu penyajian gendang beleq merupakan seni tari yang memeliki keunikan  dan ke khas an tertentu sebagai sebuat tarian.

Gendang Beleq terdiri dari 2 orang penabug gendang, 4 atau 6 orang penari oceh/oncer ( disebut demikian karena para penari sambil menari memegang alat musik copeh yang sewaktu-waktu di mainkan mengikuti irama musik ) dan 1 orang penari petuk ( membawa alat musik petuk yang dimainkan mengikuti irama musik), Selain itu masih banyak juga alat musik yang digunakan dalam penyajian gendang beleq ini seperti suling, gong, terumpang, kenceng, oncer, pencek.

Penyajian Gendang Beleq ini memiliki bagian-bagian seperti :

1.    Bagian pertama ditarikan bersama oleh penari oncer, gendang dan petuk. Bagian ini merupakan gambaran keberangkatan para prajurit ke medan perang.
2.    Bagian kedua  ditarikan oleh penari petuk dengan gerak-gerak yang lucu. Bagian ini merupakan tari untuk menghibur
3.    Bagian ketiga ditarikan bersama penari oncer, gendang, dan petuk. Bagian ini merupakan gambaran setelah peperangan selesai.

Selain memiliki bagian-bagian tertentu dalam penyajiannya, gendang beleq juga memiliki struktur penyajian seperti :
  1. Diawali dengan masuknya 2 orang penari gendang, tampak tarian ini sangat gagah dan dinamis.
  2. Kemuclian masuk 4/6 orang penari oncer, se.entara penari gendang mengambil posisi di samping kiri kanan sebagai latar belakang.
  3. Penari oncer mengambil posisi clucluk sambil menyanyi lagu Pampang Paoq.
  4. Sebagai akhir sari penari oncer keluar pentas diikuti penari gendang.
Para penari Gendang Beleq memakai busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, dodos, dan ikat kepala, sedangkan penari oncer mengenakan busana celana tiga perempat, baju krah sanghai lengan panjang, ikat pinggang, kain tiga perempat, ikat kepala, dan hiasan dada.


CEPUNG

Kesenian tradisi yang kini hanya hidup di Desa Jagaraga, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Tidak diketahui secara pasti bagaimana asal - muasal perkembangannya. Biasa dimainkan di arena terbuka tanpa dekorasi ruang tertentu. Pemain duduk bersama melingkar, kemudian masing-masing memainkan perannya sesuai kemampuan semalam suntuk.

Mulut sebagai alat musik. Diperkirakan merupakan kelanjutan dari seni pepaosan, yakni pembacaan cerita-cerita lontar dengan tembang. Para pemain mengambil cerita monyeh yang dikarang dalam bentuk seloka berbahasa Sasak.

CILOKAQ

Cilokaq merupakan seni musik yang bernafaskan padang pasir yang gubahan-gubahan lagunya bersumber dari nada gambus tunggal. Tetapi, dalam perkembangannya, musik Cilokaq dikembangkan lagi dengan penambahan alat-alat musik lainnya seperti jidur, suling, gitar, gendang (ketipung).

Musik Cilokaq dulunya sebagai penghibur biasa, namun karena hanyak permintaan untuk mengisi berbagai acara akhirnya tidak dapat dihindari kalau seni musik asli Cilokaq mengikuti perkembangan yang ada.

TOKOH KESENIAN LOMBOK
Bagi kalangan seniman tradisi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Amaq Ridin adalah "maestro" yang tidak saja sebagian besar hidupnya diabdikan untuk kesenian daerah itu, tetapi juga karena dia menguasai teknik memainkan redep atau rebab. Alat musik yang juga biasa digunakan untuk kesenian gambang kromong (Betawi).
Matahari tengah beranjak siang, tetapi Puasi yang sering dipanggil Amaq Ridin masih tergolek tidur beralas tikar di ruang tamu rumahnya di Lingkungan Gerung Butun Timur, Kelurahan Mandalika, Kecamatan Sandubaya, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Niki lemes gati, wah setahun lebih ndek tiang bau milu ngelining kance batur lalo tetanggep (Ini yang lemas, sudah setahun lebih saya tidak bisa ikut teman-teman memenuhi undangan pentas)," katanya menunjuk dengkul sambil menyingkap selimut. Untuk berdiri pun Ridin sudah susah, malah saat berjalan badannya harus disangga tongkat.
Bagi seniman tradisi di Lombok, anak keempat dari pasangan Amak Tasih dan Inak Tasih ini adalah maestro redep atau rebab. Pemerhati seni tabuh Sasak Lombok, Ida Wayan Pasha, menyebut Ridin sebagai "manusia langka" karena nyaris hanya dia yang punya keterampilan teknis, ketekunan, dan kesetiaan melestarikan alat musik gesek itu sampai usia sepuh.
Redep di Lombok digunakan sebagai alat musik pengiring, seperti gamelan gandrung dan teater tutur cepung. Dalam kesenian ini hanya dua instrumen pengiring: redep dan suling; sedangkan alat musik lain, seperti gendang, kenceng, dan rincik, ditirukan dengan mulut oleh empat pemain. Sewaktu mementaskan kesenian ini, para pemain duduk bersila.
Setiap pemain bertugas sebagai pembaca (pemaos) syair naskah lontar cerita "monyeh" yang merupakan sumber cerita. Sementara tiga orang lainnya bertindak selaku pemain musik vokal, seraya melontarkan syair atau pantun secara bergantian, diiringi suling dan redep, instrumen yang dipegang Ridin.
Ridin mempunyai kelompok tetap yang sampai kini tetap kondang, namanya Cepung Jagaraga. Nama itu diambil dari nama sebuah desa di Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Namun, setahun terakhir ini ia tak pernah tampil, terhalang usia tua dan sakit.
"Laek, semasih tiang seger, marak bukaldoang, (Dulu, selagi masih segar-segarnya, kami seperti kelelawar, begadang pada malam hari dan tidur sejak pagi sampai sore," ujarnya berkelakar.
Personel kelompok Cepung Jagaraga adalah Mamik Ambar (pemaos), Ketut Bagiada (punggawa, penerjemah naskah lontar), Komang Ludri (penyokong, pendukung), Dewa Made Mudra (pemain suling), dan Ridin (redep).
Bersama kelompoknya itu, Ridin mengembara ke berbagai dusun dan desa di Lombok demi memenuhi undangan acara pernikahan, khitanan, potong gigi, dan hajatan lainnya. "Tidak seperti sekarang naik kendaraan, dulu kalau tidaknaik dokar, kami biasa berjalan kaki memenuhi undangan," katanya.
Jika pentas ke daerah yang terbatas fasilitas angkutan umumnya, seperti Lombok Tengah bagian selatan, dokar yang mereka tumpangi pun ikut menginap. Kala itu, tahun 1960-1970-an, Ridin mengaku biasa menerima bayaran antara Rp 75 dan Rp 150 per orang. Belakangan ini seorang bisa mendapat sekitar Rp 500.000 sekali tampil.
Begitu kesohornya Cepung Jagaraga, sampai grup kesenian lain enggan tampil bareng mereka dalam satu acara hajatan. Dengan besar hati, Ridin mengalah untuk memberi kesempatan kepada grup kesenian lain tampil lebih dulu.
"Kalau kami beraksi, takut penonton tersedot," ujarnya. Penonton sudah mengarahkan diri ke asal suara meski saat itu Ridin baru menyiapkan instrumennya, seperti menyetem dawai redepnya.
Karena keterampilannya, Ridin acapkali "dipinjam" grup gamelan gandrung di sejumlah desa di Lombok Barat. Ia, misalnya, turut bermain dalam acara perang topat di Kemalik, Desa Lingsar. Kali ini dia menjadi pemegang redep dari grup gamelan gandrung yang mengiringi tarian baris batek.
Dalam kesempatan membantu grup itu, Ridin sering kali ditanya langsung oleh sekehe gamelan soal cara memainkan redep. Ada pula yang secara "sembunyi-sembunyi" memerhatikan gerakan tangan Ridin.
Keberatankah dia? "Saya mau menunjukkan sampai detail teknik menggesek senar hingga strategi memindahkan atau pergerakan jemari tangan agar melahirkan nada suara yang bersih, tidak fals dan terputus-putus. Tak ada masalah," jawabnya kalem.
Akan tetapi, tambahnya, "guru" sebatas memandu, tak bisa mewariskan kemampuan. Selain keterampilan, dalam memainkan redep atau instrumen musik pada umumnya diperlukan harmonisasi antara gerak fisik dan jiwa atau rasa.
Ridin bercerita, saat membantu grup kesenian lain, dia pernah terlambat datang ke lokasi pentas di wilayah Lombok Barat. Saat itu Ridin sedang "dibon" grup kesenian gandrung. "Penonton yang mulai bubar kembali lagi saat melihat saya datang dibonceng pengojek ha-ha-ha," ujarnya.
Cepung mengandung humor yang disampaikan lewat pantun. Ridin pun ikut bercanda lewat redep. Ia bisa menggesek senar redep untuk menirukan suara rusa, atau suara ngiiik-ngiiik yang membawa imajinasi penonton pada napas orang berpenyakit asma.
Di kampungnya, Ridin sangat populer. Pada saat senggang, sepulang bekerja di sawah, ia selalu meluangkan waktu membersihkan redep, seraya berlatih memainkan gending-gending. Tak lama kemudian banyak orang datang ke rumahnya, melihat secara gratis kepiawaian Ridin memainkan redep.
Tak ada guru yang mengajari Ridin memainkan redep. Pria buta huruf ini mendapatkan kemahiran bermain redep secara otodidak. Perjumpaannya dengan redep terjadi saat dia magang sebagai anggota grup gamelan gandrung di Mataram. Ia dipercaya memegang instrumen saron.
Grup gamelan itu memiliki redep, tetapi tak ada satu anggota pun yang bisa memainkannya. Ridin berinisiatif belajar memainkan redep. Katanya, karena sudah "jodoh" disertai ketekunan, ia bisa dipercaya anggota grup gamelan gandrung itu untuk memegang redep. Sejak itulah orang mengenalnya sebagai pemain redep.
Belakangan Ridin bertemu Amak Ace, pemain redep di Desa Lingsar, Lombok Barat. Amak Ace lalu memegang tangan Ridin seraya mulutnya komat-komit. Setelah Amak Ace meninggal, Ridin menerima warisan sebuah redep yang lalu menjadi pegangannya selama berkesenian. Begitulah nasib seniman tradisi yang umumnya memiliki kemampuan teknis, tetapi tak punya alat.
Pada usia senja, Ridin hanya mengharapkan bantuan anak-cucu untuk menyambung hidup, selain juga dari panen padi dan palawija milik orang lain yang memercayainya sebagai penyakap (petani penggarap). Bagaimanapun Ridin tetap bangga. Ini ditunjukan antara lain lewat selembar sertifikat yang diperolehnya dari Taman Budaya NTB dan beberapa lembar foto saat dia memainkan redep yang kini dipajang di dinding rumahnya.

Artikel Menarik Lainnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar