
Handel tidak hanya
dikenal sebagai komponis opera, melainkan sebagai komponis oratorio, baik itu yang sakral maupun yang sekuler. Opera seria Italinya digubah untuk
penontonnya di Inggris. Sebagai catatan yang perlu disampaikanbahwa Handel
adalah orang Jerman, tetapi Ia sukses besar di Inggris; bahkan menjadi “warga
negara” Inggris.
Semasa hidupnya, Handel
telah menggubah lebih dari 40 opera, tetapi yang paling menonjol adalah: Almira
(1750), Rodrigo (1707), Agrippina (1709), Rinaldo (1711), Radamisto (1720),
Acis and Galatea (1720), Floridante (1721), Giulio Cesare (1723), Tamerlano
(1724), Rodelinda (1725), Scipione (1726), Admeto (1727), Siroe (1728),
Partenope (1730), Poro (1731), Ezio (1732), Adrianna (1734), Atalanta (1736),
Berenice (1737), Faramondo (1738), Serse (1738), Imeneo (1740), dan Deidemia
(1741).
Genre opera seria bertujuan untuk meng-recreated tragedi atau mitos atau
sejarah Yunani Kuno dalm bentuknya yang musico-dramatic.
Opera seria tersebut selalu ber-setting kebangsawanan, heroik atau
tragis. Bangsawan yang berkuasa pada masa itu diidentifikasi dengan
karakterisasi dan kisah yang dihadirkan di dalam opera seria tersebut. Tidaklah
mengherankan bila tokoh protagonis dalam cerita selalu merupakan seorang
bangsawan yang sifatnya bijak.
Pada pertengahan abad
ke-18, kepopuleran opera seria menurun. Masyarakat menilai bahwa genre itu
terlalu kaku, terlalu formal dan kurang dalam hal dramatisnya. Bahkan ada
beberapa yang memandangnya sebagai hiburan teatrikal yang tidak masuk akal.
Tetapi masalah ekonomi juga berperan disini. Opera seria menggunakan spectacle
yang sangat mewah dengan biaya produksi yang sangat tinggi. Selain itu, castrato dan penyanyi prima dona meminta
bayaran yang sangat tinggi.
Maka opera seria menjadi bahan cemoohan. Pada
tahun 1728 misalnya, John Christoph Pepusch menggubah The Beggar’s Opera. Apa yang digubahnya itu sangat serius, tetapi
gubahannya merupakan satir terhadap opera
seria. Tokoh protagonisnya adalah bukan bangsawanseperti dalam opera seria,
melainkan para pencuri, pelacur dan criminal lainnya. Bahasanya pun sangat
vulgar; dan dengan cerdasnya Pepusch mengadaptasi lagu-lagu populer yang
digubah oleh para komponis pada masa itu.
Handel menjadi korban
dalam suasana seperti tu. Setelah Imeneo (1740) dan Deidemia (1741) gagal menarik
hati publik London, Ia mengambil keputusan untuk meninggalkan genre itu. Ia
kemudian berkonsentrasi pada musik oratorio.
Tidaklah mengherankan bila musik oratorio-nya
berbeda dengan musik oratorio yang
ada pada masa itu; hal ini disebabkan karena Ia masih dipengaruhi oleh
musik-musik operanya. Sebagai catatan perlu disampaikan bahwa oratorio telah digubah sebelum Handel;
dan bahkan oratorio dikenal sebagai
musik Gereja Katolik di Roma. Karya oratorio
adikarya Handel yang tercipta pada masa itu adalah Messiah, Samson dan Semele.
Artikel Menarik Lainnya
- Tiga Generasi Mozart
- Wolfgang Amadeus Mozart (Si Anak Ajaib)
- Giulio Cesare (1723)
- Alasan - Alasan Seorang Musisi
- Aqsin M ( Guru Gitar Elektrik )
- Kevin K ( Guru Gitar Elektrik )
- Orkestra Terburuk Di Dunia "Portsmouth Sinfonia"
- Arumba ( Tradisi Dengan Gaya Masa Kini )
- Belajar Tangga Nada (bag 2)
- Handel dan Opera Barok
- John Lennon Vs Kurt Cobain
- Menganalisa L'éléphant (The Elephant) Karya Charles Camille Saint-Saëns
Tidak ada komentar:
Posting Komentar